Prosedur Pengukuran Tekanan Darah

By On Tuesday, February 19th, 2013 Categories : Pengetahuan Umum
Cara Mengukur Tekanan Darah

Cara Mengukur Tekanan Darah

Prosedur Pengukuran Tekanan Darah

Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding arteri. Tekanan ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti curah jantung, ketegangan arteri, dan volume, laju serta kekentalan (viskositas) darah. Tekanan darah terjadi akibat fenomena siklis. Tekanan puncak terjadi saat ventrikel berkontraksi yang disebut tekanan sistolik. Sedangkan tekanan terendah terjadi saat jantung beristirahat yang disebut tekanan diastolik. Tekanan darah digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan diastolic dengan nilai dewasa normalnya berkisar dari 100/60 sampai 140/90. Rata-rata tekanan darah normal biasanya 120/80.

Tekanan darah dapat diukur secara langsung atau tidak langsung. Pada metode langsung, kateter arteri dimasukkan langsung ke dalam arteri. Pengukuran tidak langsung dilakukan dengan sfigmomanometer dan stetoskop.

Sfigmomanometer atau tensimeter dikenalkan pertama kali oleh dr. Nikolai Korotkov, seorang ahli bedah Rusia, lebih dari 100 tahun yang lalu. Sejak itu,sphygmomanometer air raksa telah digunakan sebagai standar emas pengukuran tekanan darah oleh para dokter. Tensimeter atau sphygmomanometer pada awalnya menggunakan raksa sebagai pengisi alat ukur ini. Sekarang, kesadaran akan masalah konservasi lingkungan meningkat dan penggunaan dari air raksa telah menjadi perhatian seluruh dunia. Bagaimanapun, sphygmomanometer air raksa masih digunakan sehari-hari bahkan di banyak negara modern. Para dokter tidak meragukan untuk menempatkan kepercayaan mereka kepada tensimeter air raksa ini.

Sphygmomanometer terdiri dari sebuah pompa, sumbat udara yang dapat diputar, kantong karet yang terbungkus kain, dan pembaca tekanan, yang bisa berupa jarum mirip jarum stopwatch atau air raksa.

Sfigmomanometer tersusun atas manset yang dapat dikembangkan dan alat pengukur tekanan yang berhubungan dengan rongga dalam manset. Alat ini dikalibrasi sedemikian rupa sehingga tekanan yang terbaca pada manometer sesuai dengan tekanan dalam millimeter air raksa yang dihantarkan oleh arteri brakialis.

Agar sphygmomanometer masih dapat digunakan untuk mengukur tekanan darah dengan baik, perlu dilakukan kalibrasi. Cara melakukan kalibrasi yang sederhana adalah sebagi berikut:

  1. Sebelum dipakai, air raksa harus selalu tetap berada pada level angka nol (0 mmHg).
  2. Pompa manset sampai 200mmHg kemudian tutup katup buang rapat-rapat. Setelah beberapa menit, pembacaan mestinya tidak turun lebih dari 2mmHg ( ke 198mmHg). Disini kita melihat apakah ada bagian yang bocor.
  3. Laju Penurunan kecepatan dari 200mmHg ke 0 mmHg harus 1 detik, dengan cara melepas selang dari tabung kontainer air raksa.
  4. Jika kecepatan turunnya air raksa di sphygmomanometer lebih dari 1 detik, berarti harus diperhatikan keandalan dari sphygmomanometer tersebut. Karena jika kecepatan penurunan terlalu lambat, akan mudah untuk terjadi kesalahan dalam menilai. Biasanya tekanan darah sistolic pasien akan terlalu tinggi (tampilan) bukan hasil sebenarnya. Begitu juga dengan diastolik.

Penurunan raksa yang lambat ini dapat disebabkan oleh keadaan berikut:

  1. Saringan yang mampet karena dipakai terlalu lama
  2. Tabung kaca kotor (air raksa oksidasi)
  3. Udara atau debu di air raksa

Alasan yang pertama mudah kelihatan. Ada dua saringan dalam setiap sphygmomanometer air raksa yaitu di lubang tabung kaca dan tendon. Saringan di atas tabung kaca dapat menjadi tersumbat dengan mudah. Ketika air raksa menyentuh saringan, akan terjadi kelebihan tekanan. Penanganan yang tidak baik setelah dipakai yaitu membiarkan air raksa di tabung kaca dan tidak kembali ke tabung air raksa.

Alasan yang kedua berkaitan dengan fakta bahwa air raksa adalah suatu logam berat dan berisi material yang tidak murni. Keadaan ini menyebabkan dalam waktu yang lama akan mengotori tabung gelas/kaca. Akibatnya gerakan raksa saat turun terhambat.

Alasan yang ketiga adalah masuknya gelembung udara. Ini disebabkan oleh cara penanganan yang tidak sesuai dari sphygmomanometer air raksa. Debu dapat masuk lewat udara. Memindahkan sphygmomanometer air raksa tanpa mengunci air raksa kembali ke kontainer dan meninggalkan klep membuka dapat menghasilkan suatu gelembung udara di air raksa.

Tensimeter bebas air raksa/ jarum

Mengingat bahwa air raksa merupakan logam berat yang berbahaya, maka sekarang sudah banyak beredar Sphygmomanometer yang tidak menggunakan raksa contohnya UM-101 A & Medical Mercury-Free Sphygmomanometer. Pertimbangan banyak dokter dan perawat yang beralih ke UM-101 A & Medical Mercury-Free Sphygmomanometer adalah:

  1. Akurat, konsisten inovatif design.
  2. Bebas Mercury /air raksa : aman untuk pasien, diri sendiri, staff dan lingkungan.
  3. Tidak ada perasaan cemas menggunakan sphygmomanometer.
  4. Mercury-Free Sphygmomanometer mempunyai cara kerja yang sama dengan tensimeter air raksa.

 

1.  Tentukan ukuran manset

Pengukuran tekanan darah yang akurat tergantung pemakaian manset yang sesuai bagi pasien. Bila manset terlalu besar untuk lengan pasien, seperti pada anak-anak, maka pembacaannya akan lebih rendah dari tekanan sebenarnya. Bila manset terlalu kecil, misalnya pada penggunaan manset ukuran standar pada pasien obes, maka pembacaan tekanan akan lebih tinggi disbanding tekanan sebenarnya. Maka diproduksi berbagai ukuran manset untuk berbagai ukuran lingkar lengan.

 TABEL 1. UKURAN-UKURAN MANSET YANG TERSEDIA Dl PASARAN UNTUK EVALUASI PENGUKURAN TEKANAN DARAH

Jenis Manset Lebar kantong karet (cm) Panjang kantong karet (cm)

Neonatus

2.5 – 4.0

5.0 – 9.0

Bayi

4.0 – 6.0

11.5 -18.0

Anak

7.5 – 9.0

17.0 – 19.0

Dewasa

11.5 -13.0

22.0 – 26.0

Lengan besar

14.0 -150

30.5 – 33.0

Paha

18.0 -19.0

36.0 – 38.0

 

2.  Pasang manset dengan benar.

Pasang manset dengan membalutkannya dengan kencang dan lembut  pada lengan atas, dan balon manset harus berada di tengah atas arteri brakialis.

3.  Posisikan klien dengan benar

4.  Pompa manset hingga mengembang

Pompa manset hingga mengembang, tekanan dalam manset dinaikkan sampai denyut brakial atau radial menghilang. Hilangnya denyutan menunjukkan bahwa tekanan sistolik darah telah dilampaui dan arteri brakialis telah tertutup. Manset dikembangkan lagi sebesar 20 – 30 mm Hg di atas titik hilangnya denyutan radial. Manset kemudian dikempiskan perlahan, dan dilakukan pembacaan auskultasi maupun palpasi. Dengan auskultsasi kita dapat mengukur tekanan sistolik dan diastolik dengan lebih akurat.

5.    Auskultasi Tekanan Darah

Ujung stetoskop yang berbentuk corong atau diafragma diletakkan pada arteri brakialis, tepat di bawah lipatan siku (rongga antekubital), yang merupakan titik di mana arteri brakialis muncul di antara kedua kaput otot biseps. Manset dikempiskan dengan kecepatan 2 – 3 mm Hg per detik, sementara kita mendengar awitan bunyi berdetak, yang menunjukkan tekanan darah sistolik. Bunyi tersebut dikenal sebagai bunyi Korotkoff, terjadi bersamaan dengan detak jantung, dan akan terus terdengar dari arteri brakhialis samapai tekanan darah dalam manset turun di bawah tekanan diastolic. Pada titik tersebut, bunyi akan menghilang. Dalam praktek sebenarnya, bunyi menjadi lebih sember (karakternya berubah) saat diastolic tercapai dan kemudian menghilang sekitar 10 mm Hg di bawah tekanan diastolik.

Hilangnya bunyi sangat dekat dengan tekanan diastolik yang sebenarnya. Bila terdapat lebih dari 10 mm Hg antara bunyi sember dan saat hilangnya, maka tekanan darah dicatat sebagai tekanan tripartite, mis. 120/80/60, yang menunjukkan bahwa bunyi menjadi sember pada 80 mm Hg dan menghilang pada 60 mm Hg.

Kadang – kadang, terjadi penghilangan sementara saat mengauskultasi tekanan darah. Penghilangan ini dinamakan gap auskulatori. Misalnya, bunyi Korotkoff terdengar pada 170 mm Hg, menghilang pada 150 mm Hg, kembali pada 130 mm Hg, dan menghilang pada 90 mmHg. Pasien tersebut menderita gap auskultori sebanyak 20 poin. Hal ini biasa terjadi pada pasien dengan tekanan darah tinggi atau stenosis aorta berat (penyempitan muara katup antara ventrikel kiri dan aorta, menurunkan aliran darah ke aorta).

6.    Palpasi Tekanan Darah

Sama saja dengan prosedur yang diterangkan di atas. Ketika manset dikempiskan,arteri brakialis atau radialis diraba. Pembacaan dimana teraba lagi denyutan adalah tekanan sistolik. Palpasi dilakukan bila tekanan darah sulit didengarkan. Tetapi, dengan palpasi, tekanan diastolic tidak dapat ditentukan dengan akurat.

Penemu tensimeter, batu kapur tertimbun tanah karena tekanan dan panas yg tinggi menjadi, cara tembus dapetin video rinada, dokter di ewe ama tukang sol, dokter saraf ngesek dngn pasiennya, nama besaran tensi meter, tensimeter bergelembung
Prosedur Pengukuran Tekanan Darah | admin | 4.5